Tambal Sulam Vs Bangunan Baru

29/07/2009 at 08:33 | Posted in Opini | 3 Comments

Tulisan saya kali ini imajinatif dengan menganalogikan permasalahan. Setiap mahasiswa sosiologi UAJY –dari awal terbentuk sampai sekarang diasumsikan sebagai penghuni rumah. Tentu saja, karena setiap mahasiswa membutuhkan rumah, maka kita bisa pastikan bahwa rumah kita tersebut sudah di bangun sejak dulu oleh penghuni pemula [baca: mahasiswa sosiologi angkatan awal]. Rumah kita ini, kita asumsikan lagi sebagai HMPS Sos (Himpunan Mahasiswa Program Studi Sosiologi). Ketahanan sebuah rumah, mudah sekali di lihat dengan indikator seperti; fondasi, bahan material, design, dsb. Bila di analogikan dengan HMP Sos maka indikator itu berupa; Visi dan Misi, AD/ART, Struktur organisasi, Fungsi dan Tujuan, dsb. Indikator-indikator tersebut—mau tidak mau, suka tidak suka—akan mempengaruhi penilaian kita pada rumah kita sekarang ini.

Tak perlulah kita malu dan mengakui bahwa jatuh-bangunnya rumah kita ini akibat; fondasi, bahan material, design yang digunakan, dan barangkali karena sudah mulai lapuk sehingga tidak sesuai dengan jamannya sekarang. Tetapi bukan hanya itu! Kalau hanya itu argumen saya untuk menyimpulkan kondisi rumah sekarang ini, jelas sekali ‘Tidak Cukup Kuat‘. Masih ada indikator yang lain yang penting yaitu para penghuni rumah itu sendiri dari tahun ke tahun dan juga kepala rumah tangganya. Ada yang cakap merawat, ada yang hanya numpang berteduh, dan ada yang acuh tak acuh.

Yang pertama; perawat yang baik—tapi sayang seribu kali sayang bukanlah penghuni tetap, dalam waktu tertentu harus meninggalkan rumah itu. Yang kedua; sedikit banyak jumlahnya, mereka hanya berteduh. Karena sudah gilirannya mau menghuni rumah tersebut, ya sudah di huni saja. Kalau atapnya bocor, biarkan saja yang penting tempat tidurnya tidak banjir. Mengapa dikatakan berteduh dan bukan tinggal? Karena memang jarang tinggal di rumah itu—berkumpul satu dengan yang lain dan melakukan kegiatan bersama. Penghuni hanya sekedar tamu-tamu saja, tidak perlu keputusan bersama, kecuali kepala keluarga lagi mood mau gawean barulah kumpul-kumpul. Sesudah itu ya sudah! Dan yang ketiga; penghuni acuh tak acuh, ini mungkin yang paling banyak. Alasannya juga berbeda-beda tergantung penghuninya. Ada yang tidak senang dengan kepala rumah tangga, ada yang lebih suka tinggal di rumah orang lain, ada yang malas karena harus merawatnya, ada yang merasa tidak mampu untuk bersama dengan penghuni lainnya dan ironisnya banyak yang takut untuk menghuni apalagi untuk tinggal di rumah itu. Dengar-dengar sih, rumah itu juga di huni oleh ‘hantu halus’, sering menggoyang-goyang rumah itu sehingga banyak yang tidak betah. Katanya begitu. Tapi rasa-rasanya tidak rasional banget!!! Jaman sekarang ada hantu??? Ga’ banget deh!!! Saya sendiri tidak percaya, paling itu alasan penghuninya saja; pun kalau ada misalnya—di hadapi saja, saya yakin deh! Si hantu akan berpikir rasional juga, “sepertinya penghuni-penghuni ini juga lebih seram. Buktinya berani tinggal di rumah itu dan tak takut denganku”. Ini contoh saja—kalau ada. Tapi sekali lagi saya pikir tidak ada dan juga bukan alasan yang rasional untuk mudah di terima.

Berhubung banyak masalah di rumah itu, timbullah ide-ide baru bagaimana supaya rumah itu bisa di huni lagi, dan setiap penghuni berani tinggal di situ apalagi juga mencalonkan diri sebagai penanggungjawab rumah itu. Perbedaan itu sebenarnya hanya masalah waktu sedangkan tujuannya sama; agar penghuni tidak takut tinggal di rumah itu, merasa nyaman, bahkan mungkin mendapat berkah dari rumah itu—misalnya dapat pengetahuan atau pengalaman dengan tinggal dengan penghuni yang lain [baca: berorganisasi].

Versi Tambal Sulam

Menurut pengikut ideologi ini berharap untuk perubahan itu perlu, tetapi jangan sekaligus. Walaupun rumah kita itu sudah miring-miring, jangan di robohkan! Cukup satu persatu kita tambal yang bocor-bocor saja, urusan rumah yang lebih bagus nanti saja setelah ada penghuninya. Mereka punya semboyan yang sudah turun-temurun bahwa “Kalau rumah kita bocor, jangan di hancurkan tetapi mari kita perbaiki secara bersama-sama selangkah demi selangkah”. Selain tenaga dan waktu yang akan efesien juga akan mengurangi beban para penghuninya. Yang penting adalah penghuni yang cakap mau menghuni rumah tersebut, biar lebih cepat. Masalah mau yang baru dan lebih bagus, biarlah nanti si penghuni baru yang akan merawatnya. Biasanya mereka berharap dan bahkan menghendaki hanya orang-orang yang mereka anggap mampu dan bisa tinggal di rumah itu. Yang biasa-biasa saja, tidak akan mampu tinggal di rumah itu dan apalagi memperbaikinya. Dengan istilah lain, bukan sistem bangunan rumahnya yang dipermasalahkan melainkan ‘orang yang tepat’ tinggal di rumah tersebut.

Versi Bangunan Baru

Kebalikan dari versi tambal sulam, pengikut versi bangunan baru adalah orang-orang yang revolusioner. Tetapi walaupun mereka revolusioner mereka yakin bahwa rumah yang di robohkan itu akan di bangun dengan nama yang sama yakni rumah juga. Rumah ini pasti akan lebih kokoh, lebih nyaman untuk di tinggal dan lebih baru. Fondasi, bahan material yang digunakan selama ini harus di musnahkan secepatnya, menambal satu-persatu hanya akan mewarisi rumah yang tetap saja bobrok. Rumah yang sudah mau tumbang bila disambar oleh kambing yang lagi senewen tidak perlu di renovasi tetapi di rekonstruksi. “Bukan nanti, tetapi sekarang!”—harus di rubah apabila memang kita mengharapkan rumah yang bagus dan penghuni yang bertanggungjawab pula. Bagaimana kita menuntut penghuni bertanggungjawab kalau rumahnya sendiri sudah tidak layak lagi di tinggal? Bagaimana mungkin penghuni-penghuni akan berbondong-bondong untuk tinggal di sana apabila tidak memiliki harapan? Pengikut ideologi ini percaya bahwa bukan masalah orang cakap atau bertanggungjawab saja yang menjadi masalah, tetapi sistem bangunan rumah yang paling pokok yang harus di perbaharui secara keseluruhan, sehingga niscaya penghuni-penghuni di masa akan datang akan tertarik untuk tinggal di sana.

Tambal Sulam Vs Bangunan Baru merupakan ‘imajinasi’ pikiran yang berdialog dengan dirinya sendiri. Daya khayal yang tidak koheren dengan konteksnya, barangkali secara kasar boleh dikatakan “Buah pemaksaan Ide”. Karena haus oleh ide apa yang akan di tulis, maka memperkosa gagasan utama pun bukan lagi merupakan moral yang penting, melainkan cuma satu kata Tulis!

Salam

Willy W

Advertisements

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. tx untuk tulisannya.

    seperti air yang selalu mengalir kemana saja dan tak pernah lekat dengan yang diairi, bangunan baru dan tambal sulam menjadi sebuah pilihan manusia tanpa harus lari dari realitas diri yang mungkin hanya mampu tambal sulam atau…lebih dari itu membangun sesuatu yang baru bahkan lebih dari yang semestinya.

    paham ya???? kalok nggak ya udah….

  2. kualitas bangunan yang bagus adalah pada pondasi, jika sebuah rumah didirikan diatas pasir, kalau ada kambing yang senewen, atau sapi yang lagi bersin….maka bangunan langsung itu lenyap…
    nah bangunan itu menjadi indah atau terawat tergantung dari penghuninya, mau ngerawat atau enggak,berangkat dari realitas sekarang dengan pondasi yang buruk, material yang buruk pula maka sah-sah saja bangunan ini dirombak total ganti yang baru meskipun butuh proses yang lama, tapi akhirnya kokoh iya nggak?

  3. @Lili; Memang, bila air mengalir tidak pernah lekat dengan yang diarinya, pun kalo meninggalkan jejak sifatnya sementara saja, bila disinari matahari maka akan menguap dan tak tampak. Tapi air tidak selalu mengalir, bahkan mata airpun bisa saja berhenti di musim kering yang ganas. makanya kita perlu tampung, walaupun saat ini kita merasa tak membutuhkannya. air akan selalu berguna. Tambal sulam Vs Bangunan merupakan pilihan (yang ada) dan lari dari realitas memang bukan hal yang bijak. (setuju) hehehehe…

    @Sancti; Sekedar info: “Kalau ada kambing yang lagi senewen” itu yg aku kutip dari sebuah novel, tapi lupa dr mana…ga ingat apa novelnya andrea, pram ato sapa??? hmmm…
    anyway, pondasi memang perlu dan juga penghuninya…tpi siapakah penghuninya??? masa kita tanya pada rumput yg bergoyang….hehehe
    ingat tuh, kita jangan lari dari realitas…

    Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: